on 1 comment

Keindahan Menurut Pandangan Barat

Di dalam sejarah perkembangan estetika di Barat, cukup banyak tercatat filosof terkemuka yang telah memberikan pandangannya tentang keindahan. Berbagai pandangan filosof Barat tentang keindahan lahir sejak zaman Yunani Kuno hingga pada zaman modern dewasa ini. Beberapa pandangan di antara filosof Barat tersebut diuraikan berikut ini.
Socrates (469-369 SM)
Socrates dikenal sebagai ahli pikir pertama Yunani yang membicarakan keindahan. Pembicaraan menarik tentang keindahan yang dilakukan Socrates terjadi ketika berdiskusi dengan Hippias. Di dalam diskusi suatu diskusinya, Sokrates meminta perumusan atas pertanyaan: apakah keindahan itu? Dari mana diketahui bahwa sesuatu itu indah dan yang lain tidak? Katakanlah apa itu indah dan apa itu cantik?
Kata Sokrates: orang jujur adalah jujur karena memiliki kejujuran, bukankah kejujuran itu sesuatu yang tertentu?
Sahut Hippias: memang demikian.
S:            Karena memiliki kebijaksanaan maka orang bijaksana menjadi bijaksana, dan karena
               memiliki kebaikan maka barang baik menjadi baik?
H:           Ya, tidak perlu disangkal.
S:            Sekarang aku ingin bertanya apakah barang-barang yang indah menjadi indah
               karena memiliki keindahan?
H:           Ya, karena memiliki keindahan.
S:            Jadi keindahan itu sesuatu yang nyata?
H:           Demikianlah, lantas apa yang ditanyakan?
S:            Kawan yang baik, sekarang beritahulah aku apa sesuatu ini, this beauty or the beautiful?

Sokrates meminta ide keindahan, 'gagasan umum' yang menyebabkan semua barang indah menjadi indah. Sokrates tidak menanyakan yang apa yang bersifat indah, tetapi Hippias menjawab:
H:            Aku tahu maksudmu, wahai kawanku yang jujur. Kukatakan pendapat yang diakui oleh
               seluruh dunia. Kebenaran harus dikatakan, wahai Sokrates: a beautiful maiden is the
               thing beautifulDara cantik adalah sesuatu yang cantik.
S:            Bagus sekali, wahai Hippias: …… akan tetapi ku ingin mengulangi pertanyaanku. Aku
               tidak menanyakan apa yang bersifat cantik, ku ingin tahu apakah ada sesuatu yang
               dinamakan kecantikan, yang jika ia ada pada sesuatu maka kita sebut barang itu cantik.
               Aku tentu tidak bisa mengatakan demikian: “Dara yang cantik adalah kecantikan itu
               sendiri, jika ia ada pada sesuatu maka barang itu berhutang kecantikan dari padanya.
               Sokrates lantas mengemukakan: “Tidakkah kuda yang indah juga indah”: sudah barang
               tentu kita tak dapat membantah bahwa barang yang indah adalah benar-benar indah.
H:           Benar, Sokrates. Tuhan Maha Pemurah, memang ada kuda yang luar biasa indahnya.
S:            Baiklah sekarang, tidakkah guitar yang indah juga sesuatu yang indah dan cantik?
               Benarkah demikian, wahai Hippias? Juga lukisan?
H:           Tentu saja.
S:            Bagaimana pendapatmu tentang belanga yang indah? Apa ia juga sesuatu yang indah?
H:           Indah, terutama kalau dibuat oleh seorang yang ahli, halus, bundar, dan cukup matang
               terbakar.

Hippias menambahkan bahwa sendokpun bisa jadi indah, akan tetapi kita tidak dapat mengatakannya dalam arti sama cantiknya seperti kuda atau gadis dara. Sokrates memberi bumbu kepada perkataan Hippias: memang Heraklitus pernah mengatakan bahwa kera yang tercantik jika dibandingkan dengan orang maka ia masih jelek. Demikian juga seorang gadis cantik, bukanlah apa-apa kalau dibandingkan dengan bidadari dari sorga; sebagaimana orang yang paling arif bijaksanapun, bila dibandingkan dengan Tuhan, tentu masih tampak kera dalam segala hal. Akan tetapi baiklah kita tidak melantur, kata Sokrates, kita kembali pada pertanyaan semula: what the beautiful is.

Di dalam salah satu dialognya dengan Hippias, Sokrates juga pernah berkata, "Kecantikan bukan sifat tertentu dari seratus atau seribu barang, karena sudah barang tentu manusia, kuda, pakaian, dara dan guitar semuanya adalah barang-barang cantik. Akan tetapi di belakang itu semua terdapat kecantikan itu sendiri, the beauty itself. Pendapat Sokrates yang menyinonimkan kecantikan dengan keindahan itu dapat dipahami bahwa setiap objek memiliki keindahannya sendiri-sendiri.

Pernyataan keindahan Sokrates yang lebih tegas diungkapkan pada suatu waktu dengan menyatakan bahwa,  "Keindahan adalah segala sesuatu yang menyenangkan dan memenuhi keinginan terakhir".

Plato (427-347 SM)
Plato adalah murid Sokrates yang memandang keindahan dengan teori metafisika. Pandangan-pandangannya tentang keindahan dapat ditelusuri melalui dialog symposium yang pernah ia lakukan. Inti pandangannya tentang keindahan antara lain dinyatakan bahwa:
  • Keindahan terlepas dari pengalaman jasmani.
  • Keindahan adalah realitas yang sungguh-sungguh sejenis hakikat yang abadi dan tak berubah-ubah.
  • Keindahan di dalam kehidupan sehari-hari hanyalah keindahan taraf kedua.
  • Untuk mencapai keindahan yang ideal harus melalui cinta. Istilah "cinta" dijelaskan oleh Sokrates dengan mengatakan bahwa "cinta adalah sesuatu yang bertentangan; ia berasal dari keinginan kepada sesuatu yang belum dipunyai dan kecenderungan kepada sesuatu yang belum ada pada diri seseorang".
  • Untuk mengetahui keindahan yang sebenarnya di muka bumi ini kita harus terlebih dahulu mengosongkan pikiran dan membersihkannya dari segala kesalahan dan dosa yang pernah terjadi dan mencoba mengembalikan kesucian jiwa kita.
Pandangan-pandangan keindahan yang dikemukakan Plato menggunakan cara kaum Sufi di dalam memahami hakikat. Hal itu tampak dalam dialognya yang berusaha menunjukkan cara mencapai keindahan mutlak. Simaklah ucapan-ucapan Plato berikut ini yang berusaha menjelaskan cara mencapai keindahan mutlak.

Plato menjelaskan bahwa, orang dapat mencapai tingkat itu dengan cara yang sangat mirip dengan peristiwa bersatunya insan dengan Tuhan dalam keyakinan kaum kebatinan. Orang yang meningkat pengetahuannya mengenai rahasia cinta hingga mencapai titik pada tingkat rahasia terakhir, akan melihat dengan tiba-tiba keindahan yang sangat aneh, yakni bentuk keindahan yang terakhir, keindahan abadi yang tak berubah dan tak mengenal musnah, tak mengenal layu, dan tidak mengenal tambah. Dengan menyapa Sokrates, Plato pun melanjutkan penjelasannya bahwa, tak ada sesuatu di dalam hidup ini yang lebih berharga dari pemandangan keindahan abadi itu. Aku bertanya-tanya, tak ada sesuatu yang lebih indah dari suasana yang dianugerahkan kepada orang yang bernasib dapat merenungkan keindahan murni dalam kejernihan dan kesederhanaannya, jauh dari segala keruhnya tubuh dan aneka ragam sifat kemanusiaan, tak bercampur dengan kesenangan-kesenangan duniawi yang pasti sirna. Orang itu dapat menikmati keberadaannya di hadapan keindahan Ilahi yang tak ada bandingannya. Dari pemikiran mengenai keindahan abadi akan timbul keluhuran budi yang benarnya, bukan dalam bentuknya yang palsu, karena kebenaranlah yang ia ganrungi.

Pernyataan-pernyataan di atas menggambarkan tangga cinta Platonis menuju ke arah pencarian cinta tertinggi, dan cinta tertinggi inilah yang dianggap satu-satunya cinta yang dapat membimbing kita ke jalan yang benar. Mencari keindahan merupakan usaha mencapai keabadian, menyerupai pensucian diri yang membangkitkan rasa cinta dan kesenangan. Tanpa usaha ini, orang dipandang akan mendapatkan dirinya seolah-olah telah ditakdirkan untuk bergumul dengan lumpur kepalsuan barang-barang dunia. Berkat keindahan mutlak yang sederhana dan bersih (tidak bercampur aduk dengan kotornya tubuh jasmani atau segala kepalsuan duniawi), orang dapat mencapai wujud yang mutlak, memperoleh keselarasan semesta dan keharmonisan universal.

Di dalam filsafat Plato, keindahan tidak pernah disederajatkan dengan kehidupan. Keindahan dianggap tidak berwujud di muka bumi. Ia lebih tinggi dan berada di atas alam semesta ini. Akan tetapi, walau jauh perbedaan jarak antara keindahan duniawi dan keindahan mutlak yang sebenarnya, orang dapat menyingkap sinarnya yang cemerlang di antara ide-ide yang berada di atas dunia ini.

Jadi, inti pemikiran Plato adalah memandang keindahan di muka bumi ini sebagai imitasi tak sempurna dari keindahan mutlak.

Aristoteles (384-322 SM)
Aristoteles adalah murid Plato. Pemikiran-pemikirannya mengenai keindahan disimpulkan dari cuplikan-cuplikan tulisannya. Salah satu tulisannya menyebutkan bahwa, "Barang yang terdiri dari bagian yang berbeda-beda tidak sempurna keindahannya, kecuali bila bagian-bagiannya teratur rapi dan mengambil dimensi yang tidak dibuat-buat; karena keindahan hanyalah pengaturan dan keagungan". Jadi, keindahan bagi Aristoteles terdiri dari keserasian bentuk yang setinggi-tingginya. Ia tidak mementingkan pemandangan manusia seperti apa adanya di dalam kenyataan, tetapi menurut bagaimana seharusnya. Pemikiran Aristoteles mengenai keindahan sedikit berbeda dengan pemikiran Plato. Plato memandang idea keindahan mutlak sebagai prinsip transenden di atas subjek dan di atas alam sebagai tauladan asli yang abadi, idea murni yang berada diluar akal. Aristoteles memandangnya hanya sebagai tauladan batin yang terdapat di dalam akal manusia, tidak mempunyai objek yang dapat kita temukan di luar diri kita. Tidak ada suatu ideapun yang melampui batas akal manusia dan alam semesta. Segala sesuatunya ada di dalam diri kita, dan idea itu ada di dalam diri manusia. Kata Aristoteles, "kita tidak menginginkan kegunaan dan kepastian kecuali demi keindahan, tetapi keindahan ini bersatu padu dengan akal manusia".

Demikianlah pandangan-pandangan Aristoteles tentang keindahan. Sesudah Aristoteles tidak ada lagi teori estetis yang dipandang orisinil.

Plotinus (205-270)
Plotinus adalah pendiri Neo Platonis. Ia dikenal dengan filsafatnya tentang pengaliran (emanasi) semua hal dari yang Esa dan semua kembali kepadaNya. Sesuai dengan pemikiran itu, pandangannya tentang keindahan berangkat dari kenyataan duniawi yang kita saksikan dan yang kita alami sehari-hari. Di dalam upayanya mengetahui asal semua hal, termasuk diri manusia sendiri, manusia mulai menempuh jalan kembali tersebut. Di dalam menghadapi kenyataan itu dan di dalam perjalanan kembali ke sumbernya, manusia mengalami sesuatu yang disebut "indah". "Keindahan" itu ia temukan, baik yang terlihat maupun yang terdengar, bahkan juga dalam watak dan tingkah laku manusia. Ia memberikan definisi keindahan sebagai kesatuan, simbolisme, dan keseragaman. Menurut Plotinus, hidup adalah forma dan forma adalah keindahan.

Pandangannya yang lain dikatakan bahwa, keindahan itu adalah pancaran budi Ilahi. Apabila yang hakikat menyatakan dirinya atau memancarkan sinarnya dalam realitasnya yang penuh, itulah keindahan. Seniman adalah orang yang tajam pandangannya, yang dapat melihat keindahan Ilahi.


Santo Augustinus (354-430)
Filsafat Augustinus cukup dipengaruhi Neoplatonisme. Bahkan dalam hal-hal tertentu dipandang hanya mengulang kembali ucapan-ucapan Plato. Ia mendefinisikan keindahan sebagai kesatuan bentuk (omnis pulcritudinis forma unitas est). Augustinus berpendapat bahwa pengamatan mengenai keindahan mengandaikan dan memuat suatu penilaian. Artinya, apabila suatu objek dinilai jelek, maka objek tersebut diamati sebagai sesuatu yang menyimpang dari yang seharusnya terdapat di dalamnya, yaitu ketidakteraturannya. Kita dapat mengamati kedua-duanya apabila memiliki idea tentang "keteraturan ideal" yang dapat diterima lewat Terag Ilahi (divina illuminatio).


Thomas Aquinas (1225-1274)
Rumusan Thomas yang paling terkenal ialah "Keindahan berkaitan dengan pengetahuan; sesuatu dinyatakan indah jika sesuatu itu menyenangkan mata sang pengamat". Artinya, pengalaman keindahan muncul apabila terdapat pengetahuan dan pengalaman di dalam diri manusia. Thomas Aquinas menyaratkan tiga hal agar sesuatu bisa disebut indah, yaitu:
  1. Adanya integritas atau perfeksi
  2. Proporsi yang tepat atau harmonis
  3. Adanya klaritas atau kejelasan.
Alexander Gottlieb Baumgarten (1714-1762)
Baumgarten sebenarnya tidak banyak memberikan pemikiran baru mengenai teori keindahan. Akan tetapi, karena jasanya memperkenalkan istilah "Aesthetika" sebagai bidang penyelidikan khusus mengenai teori tantang keindahan kepada dunia, sehingga ia diberi gelar "Bapak Ilmu Estetika". Baumgarten adalah seorang filosof Jerman yang membedakan adanya tiga kesempurnaan di dunia ini, yaitu:
  1. Kebenaran, ialah kesempurnaan yang ditangkap dengan rasio
  2. Kebaikan, ialah kesempurnaan yang ditangkap dengan moral, dan
  3. Keindahan, ialah kesempurnaan yang ditangkap dengan indera.
Immanuel Kant (1724-1804)
Immanuel Kant seorang filosof terkemuka dari Jerman, yang hidup semasa dengan Baumgarten. Ia membagi teori keindahannya menjadi empat bagian, yakni teori disinterestedness, teori universalitas, teori esensialitas, dan teori bentuk tujuan. Teori Kant yang paling terkenal dan sering dikutip orang dari keempat teorinya itu ialah teori disinterestedness yang menyatakan bahwa "Keindahan adalah sesuatu yang menyenangkan tanpa pamrih dan tanpa adanya konsep-konsep tertentu". Di dalam menikmati keindahan suatu objek harus menghilangkan kepentingan hidup sehari-hari seperti kepentingan memiliki, menguasai, dan memanfaatkan. Penilaian keindahan harus dipisahkan dari keberadaan atau eksistensi objeknya.

Hogart

Hogart seorang berkebangsaan Inggris, di dalam bukunya berjudul "Analysis of Beauty" terbit pada tahun 1753, memberikan analisis tentang keindahan. Ia berpendapat bahwa keindahan erat sekali hubungannya dengan seni bangunan (formatif art), seperti seni ukir, seni patung, dan arsitektur. Prinsip abstrak tentang kesatuan dalam keanekaan (unity in variety) dipandang sebagai tingkat tertinggi dari keindahan. Hogart pada praktik artistiknya berusaha mencari keistimewaan dibalik kejelekan.

Beberapa tokoh Barat lainnya mengemukakan pengertian keindahan, di antaranya:
  • Mortimer Adler; keindahan adalah sifat dari sesuatu benda yang memberi kita kesenangan yang tidak berkepentingan, yang kita bisa memperolehnya semata-mata dari memikirkan atau melihat benda individual itu sebagaimana adanya.
  • Charles J. Bushnell; keindahan adalah kualitas yang mendatangkan penghargaan yang mendalam tentang berbagai nilai atau ideal yang membangkitkan semangat.
  • Samuel Coleridge; keindahan adalah perpaduan dari sesuatu yang baik bentuknya dengan yang bertenaga hidup.
  • Benedetto Croce (filosof Italia); keindahan adalah pengungkapan yang berhasil dari suatu institusi.
  • Friedrich Hegel (filosof Jerman); keindahan adalah idea yang terwujud di dalam indera.
  • Michelangelo (seniman); keindahan adalah penyingkiran hal-hal yang berlebihan.
Daftar Pustaka:
Sukarman B, 2006. Estetika. Makassar: Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Makassar.

1 komentar:

Poskan Komentar